Senin, 17 Desember 2012

mengapa ikan bisu??


MENGAPA IKAN BISU??
BAGAIMANAPUN JUGA IKAN TIDAK BISU,DIDALAM AIR PUN MEREKA BISA MENGHASILKAN SUARA, ENTAH ORANG MAU MENYEBUTKAN BISA BICARA ATAU TIDAK. KITA AMBIL CONTOH GAGAK LAUT, SEJENIS IKAN YANG ANTARA LAIN TERDAPAT DI LAUT  TENGAH DAN LAUT HITAM. IKAN INI  PERNAH DIAMATI BAGAI MANA CARA MEREKA  MENIRUKAN BUNYIKAPAL SELAM. MEMANG IKAN TIDAK MEMILIKI BAHASA YAANG SUDAH BERKEMBANG SEPERTI BAHASA MANUSIA. KITA MENGHASILKAN BUNYI-BUNYIBAHASA APA YANG DISEBUT ALAT PEMBENTUK SUARA DI LEHER PANGKAL TENGGOROKAN DAN KRONGKONGAN. ALAT SEMACAM ITU TIDAK DIMILIKI IKAN. MEREKA MENGHASILKAN NADA DAN BUNYI SECARA LAIN,MISALNYA DENGAN GEMERUTUK GIGI ATAU MENGELUARKAN BUNYI SEPERTI MENDENGKUR.ADA IKAN YANG BISA MENGGESEK TULANG-TULANG TERTENTU PADA SIRIP YANG DISEBUT PANCURAN SIRIP DAN DENGAN BEGITU MENGHASILKAN BUNYI GEMERISIK.SEBALIKNYA IKAN GENDERANG MENGEBUT DENGAN TULANG ATAU OTOT PADA GELEMBUNG UDARAYANG KERAS DIBAGIANDALAM TUBUHNYA,GELEMBUNG UDARA INI DIMILIKI SEMUAIKAN IKAN SUPAYA MEREKA BISA MENGAMBANG DALAM AIR TAMPA SUSAH PAYAH.ANEKA RAGAM BUNYI INI DIGUNAKAN UNTUK MENYAMPAIKAN BERITA ANTARA IKAN SATU SAMA LAIN, UNTUK MENCARI PASANGAN KAWIN ATAU UNTUK MENGENYAHKAN MUSUH MEREKA. MASIH ADA CARA LAIN BAGI IKAN UNTUK BISA MENYAMPAIKAN BERITA KEPADA IKAN DI SEKITAR NYA-MEMANG TAMPA SUARA. BERBERAPA IKAN ITU MENGIRIMKAN SINYAL LISTRIK YANG DI AIR KERUH DAN TAK TEMBUS PANDANG, BISA MENUNJUKKAN KEPADA KERABAT SEJENIS MEREKA SEDANG BERADA.




Read more >>

sang garuda menutup sayapnya


SANG GARUDA MENUTUP SAYAPNYA
Aku enggan membuka sayap ini.
Di saat  manusia mengabaikan pandangan mereka terhadap bintangku ini.
Indonesia bagaikan bintang yang sama cemerlangnya pada tubuh ini saat bangsa lain melihat.
Pada nyatanya, itu adalah sinar bintang yang semu belaka.
Kini sinar itu mulai redup.
Meninggalkan bekas noda yang sulit untuk aku bersihkan.

Di saat rantai emas yang kini menjadi besi.
 Yang menjadi besi akhirnya berkarat.
Menjadikan rantai itu putus berserakan.
Aku tidak akan bisa menyambung rantai itu sendiri tanpa ada manusia yang peduli.
Dan nyatanya memang tidak ada yang peduli.
Lalu aku berfikir apakah manusia kini saling terputus berserakan seperti rantaiku?

Aku sangat gerah dan panas tersengat sinar ego manusia.
Aku kini tidak memiliki tempat bernaung yang hijau.
Karena pohon beringinku terbakar.
Yang kini mulai retak batangnya.
Yang kini mulai tumbang akarnya.
Lantas di mana aku dan manusia ini dapat bernaung?

Aku enggan membuka sayapku.
Di saat temanku, si banteng yang bertanduk runcing dan gagah.
Kini tak segagah biasanya.
Kini dia lebih sering merunduk dan berjalan lambat.
Karena tidak ada yang memelihara dan merawatnya.
Saat paruhku yang runcing ini berusaha untuk memanggil sesosok manusia indonesia yang berkepribadian luhur,  tegas, dan jujur, mungkin dapat mengembalikan kepribadian sang banteng dan jati diriku.

Kini aku merasa sangat teriris.
Melihat perbedaan rakyat indonesia yang sangat berbeda.
Aku dapat melihat para butiran padi dan untaian kapas yang berlari manujju rumah berlapis emas.
Namun, para penghuni rumah bambu yang sudah susah payah bertani keduanya jarang dan bahkan tidak sama sekali memiliki padi untuk dimakan dan kapas untuk dijadikan pakaian yang sepantas dan seindah para penghuni rumah berlapis emas.

Inilah jati diriku setelah merdeka.
Yng semakin merdeka, malah semakin tertutup sayap ini malah makin erat saja.
Curahan hatiku adalah kondisiku kini.
Entah didengar, dilihat, atau dirasakan semua tergantung pada rakyat indonesia sendiri.
Nasibku tergantung kepada mereka semua.
Agar aku dapat membuka sayabku kembali dan terbang mengelilingi dirgantara indonesia.
Namun, aku masih enggan membuka sayapku.(by maDTxiiIPS)

Read more >>

SANG GARUDA MENUTUP SAYAPNYA
Aku enggan membuka sayap ini.
Di saat  manusia mengabaikan pandangan mereka terhadap bintangku ini.
Indonesia bagaikan bintang yang sama cemerlangnya pada tubuh ini saat bangsa lain melihat.
Pada nyatanya, itu adalah sinar bintang yang semu belaka.
Kini sinar itu mulai redup.
Meninggalkan bekas noda yang sulit untuk aku bersihkan.

Di saat rantai emas yang kini menjadi besi.
 Yang menjadi besi akhirnya berkarat.
Menjadikan rantai itu putus berserakan.
Aku tidak akan bisa menyambung rantai itu sendiri tanpa ada manusia yang peduli.
Dan nyatanya memang tidak ada yang peduli.
Lalu aku berfikir apakah manusia kini saling terputus berserakan seperti rantaiku?

Aku sangat gerah dan panas tersengat sinar ego manusia.
Aku kini tidak memiliki tempat bernaung yang hijau.
Karena pohon beringinku terbakar.
Yang kini mulai retak batangnya.
Yang kini mulai tumbang akarnya.
Lantas di mana aku dan manusia ini dapat bernaung?

Aku enggan membuka sayapku.
Di saat temanku, si banteng yang bertanduk runcing dan gagah.
Kini tak segagah biasanya.
Kini dia lebih sering merunduk dan berjalan lambat.
Karena tidak ada yang memelihara dan merawatnya.
Saat paruhku yang runcing ini berusaha untuk memanggil sesosok manusia indonesia yang berkepribadian luhur,  tegas, dan jujur, mungkin dapat mengembalikan kepribadian sang banteng dan jati diriku.

Kini aku merasa sangat teriris.
Melihat perbedaan rakyat indonesia yang sangat berbeda.
Aku dapat melihat para butiran padi dan untaian kapas yang berlari manujju rumah berlapis emas.
Namun, para penghuni rumah bambu yang sudah susah payah bertani keduanya jarang dan bahkan tidak sama sekali memiliki padi untuk dimakan dan kapas untuk dijadikan pakaian yang sepantas dan seindah para penghuni rumah berlapis emas.

Inilah jati diriku setelah merdeka.
Yng semakin merdeka, malah semakin tertutup sayap ini malah makin erat saja.
Curahan hatiku adalah kondisiku kini.
Entah didengar, dilihat, atau dirasakan semua tergantung pada rakyat indonesia sendiri.
Nasibku tergantung kepada mereka semua.
Agar aku dapat membuka sayabku kembali dan terbang mengelilingi dirgantara indonesia.
Namun, aku masih enggan membuka sayapku.(by maDTxiiIPS)

Read more >>