Selasa, 09 April 2013

Menghadapi Ujian Hidup


 Menurut Islam, manusia hidup pasti menghadapi ujian. Bahkan boleh jadi perjalanan hidup seseorang memang melangkah dari satu ujian ke ujian berikutnya. Sebagai contoh persoalan keluarga dan perkawinan, kematian suami/istri, soal anak, perceraian, selingkuh dan persoalan yang lainnya. Namun justru dari ujian itu manusia dididik lebih dewasa, yang akhirnya bisa menyadari siapa sesungguhnya dirinya.
                 Tentang ujian, Allah berfirman dalam surat al-baqarah ayat 155 :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita  gembira kepada orang-orang yang sabar”.
Dalam teks aslinya, Allah mengawali firman-Nya dalam ayat ini dengan kata  “sungguh” dua kali. Ini menunjukkan bahwa ujian itu pasti dialami manusia.  Kecuali mereka yang memiliki kesabaran, justru akhirnya akan menemukan kegembiraan, seperti yang ditegaskan di ujung ayat tersebut.
Berikut ini langkah yang bisa kita ambil dari ajaran Islam untuk meneguhkan jiwa agar mampu menghadapi ujian dengan tabah.
Sabar  
Kunci utama menghadapi ujian adalah sikap sabar. Banyak ayat yang memerintahkan agar kita punya kesabaran tinggi menghadapi ujian itu. Pemecahan masalah tidak akan dapat kita temukan dalam keadaan panik, marah, atau jiwa yang kacau balau.
Dalam sebuah tafsir yang di tulis Abdullah Yusuf Ali menjelaskan ada empat hal yang terkandung dalam kata sabar.
Sabar berarti menahan diri, tidak tergesa-gesa. Sabar juga berarti teguh, tabah dan keras kemauan. Sabar juga bermakna sistematik, terarah, tidak asal bertindak.
Dan sabar berarti pula menerima kenyataan atau pasrah dengan gembira, kebalikan dari sikap menggerutu dan uring-uringan
Dengan demikian sabar tidak bersikap pasif. Ada kepasrahan, tetapi juga keteguhan dan kemauan keras. Ada sikap menahan diri tetapi juga maju dengan terencana dan sistematik.
Sikap sabar sesungguhnya adalah kekuatan yang luar biasa. Lalu bagaimana kita memperoleh kekuatan itu? Kunci kekuatan itu bisa kita dapatkan pada lanjutan ayat di atas yaitu surat al-baqarah ayat 156-157 :
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Sumber kekuatan itu terletak pada kalimat istirjak atau “innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” yang artinya “sesungguhnya kami milik Allah dan kepada Allah kami akan kembali”.

Dzikir dan Tawakal
Dzikir artinya ingat. Dzikir kepada Allah artinya mengingat Allah. Dalam Alqur’an Allah menyatakan, “jika kalian ingat kepadaKu, maka Aku akan mengingatmu”. Juga dinyatakan, “ketahuilah, dengan dzikir kepada Allah, maka hati akan tentram”.
Dzikir paling ringan adalah mengucap kalimat, “la ilaha illallah” tidak ada Tuhan kecuali Allah. Yang lebih berat tentu saja menghayati sepenuh hati makna kalimat thayyibah itu.
Dzikir selain secara lisan, yang lebih utama lagi dengan  hati, yaitu mengingat Allah di setiap waktu dan segala tempat, mengakui kebesaran, kemurahan, kekuasaan, dan balasan Allah.
Menurut Imam Alghazali, tawakal artinya menyerahkan nasib sepenuhnya kepada Allah atas keadaan yang di terima. Kepahitan hidup yang kita alami, kita sandarkan kepada Allah. Tak ada tempat sandaran lebih kukuh dari pada bersandar kepada Tuhan.
Tetapi sikap pasrah hendaknya ditempatkan di belakang bukan di depan. Sebelum pasrahada keharusan ikhtiar, jangan belum apa-apa sudah pasrah. Ini bukan tawakal tetapi kemalasan atau sembrono. Tawakal tanpa ikhtiyar adalah keteledoran.
Sedekah
Sedekah sangat bermanfaat untuk mengurangi terjadinya musibah. Tuhan menolong kita terhindar dari musibah karena kita tergolong orang yang gemar bersedekah. Selain itu juga menghapus rasa cemas dan takut kita. “Allah selalu menolong hambaNya selama hamba itu menolong sesamanya,” kata Nabi Muhammad. Salah satu contoh misalnya dalam surat al-baqarah ayat 262 :
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi pemberiannya itu dengan menyebut-nyebut (undat-undat) dan tidak menyakiti (perasaan si penerima), maka bagi mereka pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada lagi kecemasan dan ketakutan bagi mereka.”
Seorang dermawan yang tulus, dari aspek sosial akan memiliki banyak sahabat sehingga banyak yang membantu mengatasi kesulitan. Sedang dari sudut agama, Tuhan akan membantu dia untuk menghilangkan rasa cemas dan sedihnya.
Read more >>